Gerimis sore itumembasahi rumah kubur di pinggir kota. Tampak keluar seekor undur undur dari sebuah kuburan di dekat pohon oak tua itu,disudut gundukan tanah. Angin kencang menerbangkan undur undur keatas nisan di kubur itu. Terukir nama empunya liang lahat itu,tertulis
UDIN SOAHARDJO BIN SUEP KODJA
30-08-1926/30-08-1996
Udin adalah seorang kakek yang sangat mencintai cucu cucunya,tampak gembira wajah mereka kala bermain dengan si kakek,dengan dongeng kesukaan anak anak itu ” Kisah Kehidupan Undur undur”.
Goresan kesuksesan si Udin dimasa tuanya,seorang pengusaha Undur undur hingga menembus dunia,mengarungi samudera ke berbagai negara yang tak pernah terbanyangkan oleh Udin. Dia menikmati kehidupan yang didamba oleh banyak orang.
Bagi seorang ayah,Udin adalah teladan dah idola bagi kedua anaknya yang juga mengikuti kesuksesan ayahnya,bahkan memiliki hobi yg sama dengan sang ayah. Peang anak pertama Udin telah menjadi dokter yang jujur dan tersohor, Panjul anak kedua Udin menjadi pialang minyak hingga jarang dia berada di negara kelahiranya.
Seorang ayah yang pandai mendidik anak anaknya sewaktu umur mereka masih rentan,saat mereka menginjak dunia kampus.Udin pun mengetahui lika liku perjalanan kehidupan remaja,dan bukan hanya menjadi ayah,namun Udin juga menjadi teman yang sangat akrab saat Peang dan Panjul berseragam abu putih.
Sesosok yang tabah saat istrinya meninggalkan hanya karena hobi Udin bermain Undur undur. Kandas cinta kasih yang telah sekian lama Udin ukir di hatinya. Bukanlah hal yang mudah merawat sendiri kedua anaknya yang masih dalam buaian,di tambah lagi ejekan para tetangga pada undur undur kesayangannya,namun Udin mengerti apa arti kehidupan,dia adalah sosok yang tegar.
Teringat masa dia duduk tegap di singgasana pernikahan dengan orang yang dicintainya,si undur undur pun tak tertinggal di kantong jas si Udfin. Banyak mata melihat,banyak bibir berucap selamat,banyak telinga mendengar Doa untuk mereka,dan banyak harapan mengalir dari hati si Udin.
Bukan kisah Laila,perjalan cinta Udin melantun bagai dawai harpa gadis maghrib,tenang bagai telaga babilon. Waktu terasa damai,penuh lembut dan keindahan, saat yang romantis bagi pemuda Udin. Perkataan selalu tertuju pada Udin,senyum si Udin pun menjadi sandaran hati para gadis,walau kadang mereka jijik pada hewan kesayangan si Udin.
Namun senyuman si Udin tidak Berbuah dari hatinya yang sedih,seakan hancur luluh tak berbekas. Air mata menjadi teman terbaik bagi Udin,menemani perjalanannya melepas kepergian Ibunda tercinta yang tak lama menyusul sang ayahanda yang sangat membenci Undur undur si Udin.
Kepintaran bukan kepunyaan si Udin. “bodoh” itulah julukan ayahanda untuk si buah hatinya,dan dia selalu mencoba membunuh undur undur kesayangan si Udin. Delaan para guru selalu mrnjadi hiasan hari hari sekolah si Udin kecil